Belajar Semangat Dari Sorang Pemulung

Sahabat Bina Dhuafa, Mari kita ambil sebuah pelajaran dari seorang pemulung, “Hari ini 1 Januari 2012, langit sudah berawan dari pagi subuh. Mendung menggantung di langit. Ketika matahari pertama menyeruak menyalakan sinarnya, dia sudah bergumul dengan awan mendung untuk menyampaikan pesan-Nya: MASIH ADA HARAPAN! Namun sinar hangat itu hanya sampai jam 07.15, setelah itu gerimis kecil-kecil mulai turun seperti butiran salju. Banyak orang mensyukurinya. Setelah matahari pertama kita mendapat gerimis pertama di tahun baru. Namun kegembiraan tidak berlangsung lama, mendung seolah tidak rela matahari merajalela. lalu dia pun mengeluarkan tetesan airnya lebih banyak dan lebih banyak lagi. Hujan awet menaungi Jakarta dan sekitarnya. Tak apa-apalah pikir mereka, ini juga hujan yang pertama di tahun baru. Semuanya serba pertama. Sungguh sebuah romantisme awal tahun baru.

Romantisme serba pertama lalu berganti, apakah romantisme ini hanya karena pergantian angka-angka baru di kalender, apakah nuansa kebahagiaan serba pertama ini akan cepat berlalu pergi oleh semua rutinitas, tantangan dan hambatan yang akan terjadi di hari-hari berikutnya. Dimana semuanya serba tak pasti. Perekonomian dunia yang tak kunjung membaik bahkan memburuk. Politik, hukum dan ekonomi di negeri sendiri yang sudah dikuasai gurita-gurita korupsi. Bahasa kekerasan yang dipertontonkan media di tv dan surat kabar. Sungguh sangat mengecewakan. Rakyat kecewa tapi hanya bisa menggigit bibir dan kesal dalam hati. Kapan negeri ini akan melangkah maju, tidak hanya maju dalam data-data angka yang bisa dimanipulasi. Tapi maju dalam arti yang sesungguhnya. Masyarakat adil, makmur dan sejahtera. Apakah bapak-bapak bangsa dulu salah merumuskan ideologi negara? Atau pemerintah gagal menerapkannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Lalu rakyat pun pasrah, pasrah sepasrahnya. Merasa dibodohi tapi tidak ada keinginan untuk merubah segala sesuatu. Hidup dalam kekecewaan dan tanpa semangat, statis dan tidak berkembang. Bagi sebagian rakyat, tahun baru seperti tidak bermakna lagi.

Tahun baru hanya dianggap sebagai sebuah perayaan hingar bingar, dimana pesta pora dan mabuk-mabukan menjadi menu utama pengganti kesedihan. Senangkan hatimu kata mereka karena ini hanya terjadi setahun sekali. Perang kembang api dan petasan memenuhi udara. Teriakan-teriakan lantang dan aroma kebebasan merebak. Kebebasan? Tidak tahukah mereka, rakyat kita masih terbelenggu dalam kebodohan dan kemiskinan akhlak dan moral? Di luar negeri sana ada aksi massal bunuh diri karena mereka menganggap ini tahun terakhir sebelum kiamat, di sini banyak para muda-mudi menghabiskan malam tahun baru berdua, melakukan perbuatan laknat dengan alasan manatahu tahun ini kiamat tiba. Menanggapi isu kiamat tahun ini para koruptor juga mulai merenungi tentang arti hidup. Bukan untuk bertobat tapi mereka berpikir jika tahun ini kiamat maka aku harus korupsi lebih gila lagi. Banyak orang berpikiran sempit dan menuruti insting hewaninya untuk memuaskan diri sendiri di awal tahun baru ini. Semuanya? Tidak semuanya. Masih ada yang waras di sini.

Pagi-pagi benar ibu itu sudah menggendong karung plastik yang besar sekali. Ia beserta sanak keluarganya bergerilya ke semua tempat hiburan yang ramai malam tadi untuk mengumpulkan sampah gelas air mineral, botol-botol plastik dan kardus sisa pesta pora tadi malam. Mereka tampak senang sekali walaupun harus berjalan kaki menembus hujan pagi ini. Hari ini kita akan mendapat banyak batinnya. Dan benar saja tidak sampai lama, karung-karung itu sudah penuh. Sekilo dari aqua gelas atau botol plastik laku Rp.3000 -Rp. 5000, tergantung baik atau buruk kondisinya.

Ironis sekali memang, ketika orang menghamburkan uang untuk petasan dan kembang api ratusan ribu rupiah, pergi dugem dan membeli minuman keras atau wine sampai ratusan ribu hingga jutaan rupiah, makanan berlimpah di atas meja hingga harus dibuang ke tong sampah, liburan dan plesir ke luar kota atau luar negeri hingga puluhan juta rupiah, ibu itu beserta keluarganya paling banyak mendapat puluhan ribu rupiah, itu pun harus berjalan puluhan kilo sambil mengangkut beban di belakang pundak. Kasihan sekali mereka menurut beberapa orang.

Kasihan? Jangan mengasihani mereka. Jangan pernah. Kasihani saja diri anda sendiri yang terlalu rakus dan pelit untuk berbagi. Mereka tidak perlu dikasihani dan mereka tidak perlu rasa kasihan anda. Mereka tetap semangat menjalani hidup. Dan mereka menghidupi semangat itu. Karena tanpa semangat mereka hanya berakhir di pinggir jalan raya untuk meminta-minta uang receh, menyerah kalah pada rasa kasihan orang. Hanya dengan semangatlah mereka mampu menghidupi anak-istri, membayar kontrakan walaupun petakan bambu, membayar uang sekolah yang katanya gratis plus pungutan-pungutan, dan mempunyai harapan akan kehidupan yang lebih baik di hari-hari mendatang. Mereka tidak butuh rasa kasihan. Mereka tidak suka itu. Mereka sungguh tidak suka dan tidak berterima ketika mendapat baju bekas sumbangan dalam keadaan yang sudah robek-robek, luntur dan compang-camping karena gosong ketika disetrika. Apa anda pikir mereka gembel? Mereka bukan gembel dan tidak mau dianggap gembel.

Lalu ketika diadakan baksos, aksi sosial pembangunan, pembagian makanan dan minuman, kenapa hanya setahun sekali? Kenapa hanya pada hari raya besar keagamaan saja baru anda mau berbagi menyumbang makanan, pergi ke panti asuhan, panti jompo. Kenapa tidak setiap hari? Kenapa susah berbagi? Padahal kita bilang kita orang beragama dan punya hati nurani.

Kiranya semangat ibu pemulung itu dapat menjadi contoh bagaimana kita menatap hari depan. Tidak  ada yang tahu hari esok seperti apa. Kalau mau melangkahi Tuhan, silahkan pergi ke peramal-peramal kondang ternama itu, baca peruntungan nama dan tanggal lahir anda, garis tangan anda, garis muka anda dan jangan lupa garis kaki sekalian, manatahu peruntungan anda dapat berubah. Sudahlah, untung-rugi, kaya-miskin, jodoh atau tidak jodoh semuanya sudah diatur oleh Allah Yang Maha Kuasa.

Belajarlah dari perjuangan hidup ibu pemulung itu. Setiap hari adalah perjuangan. Jangan takut dan jangan enggan menjalaninya sesulit apa pun tantangan atau rintangan di depan. Percaya saja bahwa ketika Allah menyertai anda di tahun 2011 maka Allah juga yang akan menyertai anda di tahun 2012. Ingatlah lagi betapa Allah sudah menyertai anda dalam segala suka dan duka di tahun yang telah lewat. Maka anda pun pasti akan dimampukan melewatinya lagi di tahun ini

Sahabat Bina Dhuafa, Marilah kita bersedekah untuk program pemberdayaan anak yatim dhuafa agar kita terhindar dari kesedihan dan ke kesulitan hidup karna InsyaAllah dengan bersedekah Allah akan memudahkan langkah hidup kita. Mari salurkan Zakat Infaq dan sedekah anda ke BCA : 7835039412, Mandiri : 135-000-7722-968, an Bpk MAHMUDI, atau anda bisa mengisi form donasi terlebih dahulu di http://binadhuafa.org/

SILAHKAN ANDA SHARE ARTIKEL BERIKUT INI !

    Postingan Lain:

    Comments are closed.