Harga Kambing Kurban 2014

Harga Kambing Kurban 2014

Harga Kambing Kurban Tahun 2014, Anda ingin tahu harga kambing Kurban 2014 yang di sediakan yayasan Bina Dhuafa silahkan anda melihat perkembangan harga kambing serta hal-hal yang mempengaruhinya

Setiap peternak khususnya peternak kambing dan domba selalu mendambakan tingginya harga jual khususnya di saat Musim Kurban atau Idul Adha. Bayang-bayang inilah yang membuat kita bermimpi akan indahnya margin atau keuntungan yang akan didapatkan di saat itu. Sebuah cita-cita diatas angin yang akan terhempas begitu saja saat ternyata harga jualnya tidak seperti yang diharapkan.

Berbagai cara telah dilakukan oleh seorang peternak kambing dan domba yaitu salah satunya dengan memangkas biaya produksi khususnya biaya pakan. Ternak yang dibeli untuk dijual saat Kurban biasanya telah dilakukan penggemukan terlebih dahulu dengan minimal 90 hari. Jadi, membeli di saat murah dan menjual di saat tinggi. Wah…cocok sekali dengan hukum ekonomi, pokoknya ingin keuntungan besar dengan biaya produksi kecil.b Tapi begitulah hanya sebuah cita-cita.

Mari kita sedikit berdiskusi tentang kondisi tersebut.

Imah Embe setuju bahwa menekan biaya khususnya pakan adalah salah satu cara untuk bisa mendapatkan keuntungan karena pakan bisa 70% sebagai faktor biaya produksi. Tapi apakah hanya dengan cara ini lalu k ita bisa mendapatkan keuntungan?. Maka Imah Embe menjawa dengan tegas TIDAK!. Ada baiknya kita evaluasi dulu seperti apakah sebenernya pondasi bisnis peternakan kita. (maklum bukan ahli ekonomi manajemen ataupun keuangan). Imah Embe membaginya pada dua pondasi, yaitu pertama Pondasi Deduktif  dan kedua Pondasi Induktif.  (Note : untuk namanya  ini hanya kajian kami saja). Kedua pondasi ini dilihat dari evaluasi biaya produksinya. Adapun lebih jelasnya dapat kita simak di bawah ini.

1. Pondasi Deduktif

Artinya adalah berapapun harga jual yang kita keluarkan diawal tidak akan berpengaruh pada biaya produksi selama periode pemeliharaan.  Biasanya pondasi seperti ini terbentuk pada sebuah produk peternakan baik dari segi ternaknya maupun lembaganya yang sudah didasari oleh pengakuan atas sebuah merk/produk, pencitraan kelembagaannya, dan faktor-faktor lainnya yang akhirnya mengesampingkan nilai dari harga suatu produk tersebut. Contoh kasus untuk di masyarakat adalah emas, dikarenakan jumlah produksinya begitu terbatas dan tidak semua pihak bisa memilikinya maka perusahaan penghasil tambang emas tidak peduli dengan biaya produksi karena berapapun harga jualnya nanti pasti terjual dan akan laku dipasaran. Atau bila contoh dipeternakan kambing dan domba adalah tingginya harga kambing boer ataupun kambing Peranakan Etawa jantan atau juga Harga Domba Garut Adu relatif tidak memperhitungkan biaya produksi yang muncul selama pemeliharaan dan bisa jauh lebih tinggi dari nilali produksinya itu sendiri, misalkan Kambing Boer full blood bisa dijual sampe dengan harga Rp15jt, Kambing PE Kaligesing bisa Rp 20jt atau harga Domba Garut Rp25jt.

Contoh yang menarik lainnya adalah kemampuan sebuah lembaga zakat/yayasan zakat untuk menjual produk qurban/aqiqah. Kepercayaan masyarakat kepada lembaga tersebut membuat beberapa perusahaan tersebut mampu bermain diatas angin untuk menjual ternak-ternaknya. Hal ini dikarenakan pembeli sudah merasa yakin dan percaya kepada lembaga tersebut untuk membeli produk qurban dan aqiqahnya ataupun dikarenakan kemampuan sebuah institusi seperti itu membuat diversifikasi produk dengan membuat kornet, sosis atau dendeng untuk produk qurbannya menjadikannya produk tersebut berbeda dan memiliki kelebihan. Beberapa contoh tersebut diatas bisa dikatakan dapat menentukan harga jual jauh diatas harga rata-rata yang seorang peternak mampu jual dan mampu mengeluarkan harga diawal untuk sebuah produk yang mereka miliki.

2. Pondasi Induktif

Nah…kalo kami masih ada di sini. jadi, tidak perlu banyak manuver dalam mendagangkan ternaknya karena segmentasi pasar yang dimiliki juga masih begitu terbatas. Pondasi Induktif dimaksud adalah penentuan harga jual diakhir menjadi penentu dalam penyusunan komposisi biaya produksi selama proses pemeliharaan. (Bingungkan??,he3). Kesalahan kami sebagai peternak kambing dan domba adalah selalu meributkan menekan biaya produksi semurah mungkin ataupun membiarkan berapapun biaya produksi karena tujuan utamanya adalah ternak menjadi gemuk atau mengalami pertumbuhan dan penggemukan, sedangkan kita melupakan siapakah nanti yang akan membeli ternak kita tersebut. Kondisi ini sangat terjadi pada peternak pada umumnya. Kondisi yang terjadi pada umunya adalah saat menjelang Kurban. Seorang peternak dengan penuh keyakinan bahwa nanti harga bisa tembus (misalkan) Rp35rb/Kg berat badan hidup, padahal dia belum tahu siapakah nanti yang akan membeli ternaknya, pikiran itu muncul karena beranggapan bahwa permintaan kurban itu jauh diatas hari-hari biasanya dan banyak pihak yang memerlukannya. Ternyata saat mendekati hari Kurban peternak tersebut hanya membawa ternaknya ke pasar hewan dan berharap banyak pembeli dari kota yang mau membeli dengan harga yang dia harapkan. Diluar dugaan ternyata ternaknya ditawar dengan harga jual jauh dari proyeksi sang peternak. Hitung punya hitung tidak bisa menutupi biaya produksi selama ini. Yang tadinya mau untung ternyata jadu buntung. Kondisi seperti ini yang kami maksud dengan Pondasi Induktif, yaitu harga jual diakhir menjadi penentu perhitungan biaya produksi ternak. Misalkan kita tahu bahwa ternak akan dijual kepasar atau tengkulak, maka lihat trend harga jual yang ada dan jadikan sebagai nilai perhitungan untuk menghitung berapakah biaya produksi yang harus kita dapatkan selama proses pemeliharaan sebelum ternak dijual.

Beberapa yang menjadi ciri Peternak Pondasi Induktif adalah :

a. Pemain baru dalam dunia peternakan kambing dan domba.

b. Pemain lama berskala besar tetapi masih mengandalkan pasar-pasar umum dalam transaksi jual belinya.

c. Produk yang dijual merupakan produk standar dan tidak memiliki keunggulan ataupun keunikan.

d. Hanya bisa berproduksi tetapi tidak bisa menjual hasil ternaknya pada end

Kalau Bina Dhuafa Sendiri pada tahun 2014 ini mematok Harga Kambing Kurban Mulai dari 1.800.000 karna kambing yang masih di nawah harga tersebuat masih sangat kecil dan bisa di katakan belum mencukupi pesyaratan untuk berqurban. Bina Dhuafa menyediakan hewan qurban untuk kalangan sendiri artinya menyediakan bagi Bapak/Ibu yang berqurban via Bina Dhuafa. Bina Dhuafa juga menyediakan Kambing Kurban Tipe E atau kambing Super dengan jenis Kambing Etawa atau Kambing Komplo yang beratnya biasanya di atas 60 KG dengan harga kisaran 2.700.000 sampai 3.000.000

Sahabat Bina Dhuafa Bagi anda yang ingin berqurban untuk pelosok desa bisa menghubungi 081 315 755 755, 085 888 444 667 atau anda Dapat mengisi Form Qurban di bawah ini

Nama Pendaftar

Alamat Email

Alamat Rumah

No. Telp/HP

Pekerjaan/Instansi

Pilihan Kurban

Nama Pekurban

Pilihan Hewan

Jumlah Kurban

Infaq Kurban ( Kosongkan Jika Tidak ada )

Jumlah Transfer

Transfer Ke

captcha

5 Komentar

  1. Abdul Rahman September 8, 2013 at 12:28 am

    Assalamu’alaikum wr.wb Pak Kami Rencana Mau Qurban Via Tebar Hewan Qurban Bina Dhuafa, Berapa Harga kambing yang sudah bisa untuk qurban ?

    • Admin September 8, 2013 at 12:49 am

      Waalaikumsalam wr.wb harga untuk kambing yang sudah bagus dan gemuk 2.000.000 pak silahkan

  2. Subakir September 8, 2013 at 12:34 am

    pak kami Insya Allah akan berqurban di Tebar Qurban Nusantara

    • Admin September 8, 2013 at 12:50 am

      Pak Bakir Silahkan anda berqurban Via Tebar Kurban Nusantara Bina Dhuafa

  3. Abdul Rahman September 8, 2013 at 8:41 am

    pak saya ingin berkurban apa bisa langsung transfer saja pak