Ketika Azab Allah Datang

Sahabat Bina Yatim Dhuafa Mari kita simak sebuah kisah dan kejadian yang seharusnya menjadi pelajaran penting bagi kita sebuah Fenomena yang terjadi di aceh pada tahun 2004 silam mari kita langsung saja simak kisahnya berikut ini

“Ketakutan memberi arti lain pada suasana jiwa. Menawarkan pilihan yang dilematis. Memilih dalam cengkraman rasa seperti ini bukanlah sesuatu yang mudah. Dilema inilah yang dialami Abdullah, wiraswasta dan kontraktor yang tinggal di Perumahan Ajun, Aceh Besar. Ketika gelombang Tsunami menghantam, ia tengah bersama orang-orang yang dicintainya, istri dan lima anaknya. Anaknya yang masih kecil berusaha dinaikkan ke atas kap mobil, menyusul yang lainnya. Namun malang bagi Kiki, ketika sang ayah berusaha menariknya ke atas mobil, sebatang kayu yang hanyut terbawa arus menghempas dan menjepitnya. Kiki meronta menahan sakit di antara pintu mobil dan kayu.
Melihat kedaan anaknya, nuraninya sebagai seorang ayah tersentak di tengah kepanikan dan derasnya gelombang yang mengamuk. Namun apa daya, genggamannya pada Kiki tiba-tiba terlepas. Sementara kakaknya masih terpegang oleh Abdullah. Kiki terdengar menjerit, “Ayah, kenapa saya dilepas?” Perihnya terasa dalam di lubuk hati sang ayah. Ia berupaya keras menarik Kiki, namun tiba-tiba air bah yang lebih kuat menghantamnya, memaksanya bercerai-berai dengan semua anaknya. Pusaran air menyeret, menenggelamkan mereka satu-per satu. Di benak Abdullah hanya terlintas kecemasan, apakah istri dan semua anaknya tidak mampu bertahan.
Semuanya hilang bersama derasnya air bercampur lumpur. Begitu tersadar, perasaan Abdullah terus berkecamuk. Sedih dan marah menjadi satu. “Saya serasa mau bunuh diri, karena tidak ada harapan, semuanya hilang.” Namun begitulah Allah yang punya sifat Rahman atas hamba-Nya. “Kalau saya bunuh diri siapa yang akan mendo’akan mereka,” kesadaran ini menguatkan Abdullah. Hingga akhirnya ia berhasil meraih sepotong kayu sepanjang empat meter. Berpegangan di kayu, ia terhantam air yang tiba-tiba menderas lagi. Badannya terseret hingga ke pagar mesjid, yang jaraknya sekitar 300 meter dari rumahnya. Ia hanya bisa pasrah.

Tidak lama di pagar, karena beban yang menekan terlalu banyak, pagar ini pun jebol. Kayu yang menahan tubuh Abdullah ikut roboh dan terhempas bersamaan dengan tubuhnya. “Saya mencoba melongokkan kepala, yang teringat hanya istri dan anak saya.” Perasaan ingin mati pun menyeruak kembali. Jika anak dan istrinya sudah tewas, untuk apa lagi ia hidup. “Tapi, lagi-lagi terpikir, siapa lagi yang akan mendo’akan mereka, agar amal mereka diterima dan dosa-dosanya terampuni. Dengan itu semangat hidup saya kembali lagi,” ujar Abdullah terbata-bata. Dengan sisa tenaga yang ada, dikumpulkannya kayu kecil yang berserakan di kiri-kanannya, dijadikan pelampung. Hingga setelah beberapa jauh, ia pindah ke sebuah kusen besar dan kuat yang terombang-ambing.

Sejurus kemudian, tiba-tiba seorang ibu menjerit di dekatnya, “Nak, tolong Nak, bagi kayunya satu, kami akan tenggelam,” sambil berenang ibu ini berusaha menangkap kaki Abdullah. Perempuan yang lain juga meraih kakinya. Karena tidak tega, kayu yang sebenarnya menjadi harapannya ia berikan pada mereka. Dengan tenaga yang ada Abdullah berusaha menepi dan meraih tembok. Di luar dugaannya, ia bisa memanjat tembok itu. Ia sedikit merasa lega. Namun setelah dilihat dari atas ternyata yang memegangnya tadi bukan hanya dua orang. Mereka berlima. Di kanan kiri sudah tidak ada lagi kayu. Ketika itu, sekali lagi Allah memperlihatkan kuasa-Nya. Secara tidak sengaja selang air lima meter terjulur mengambang dari sebuah rumah. Dengan selang air ini Abdullah menolong ketiga orang itu, seorang bapak bersama tiga anak gadisnya.
Setelah air berangsur surut, Abdullah turun dari tembok. Meski air masih sebatas badan, ia bergerak berusaha mencari mobil, dengan harapan bisa mencari istri, anak dan tetangganya. Paling tidak kalau pun mereka semuanya sudah meninggal, ia berharap bisa menemukan jasad mereka. Sambil berjalan, air matanya tek henti jatuh. “Mengapa saya bisa menyelamatkan orang lain, tapi tak bisa menyelamatkan keluarga,” pikiran ini mengganggunya. “Saya marah pada diri saya, sama Tuhan. Ya Allah, maafkan saya.”

Abdullah terus berjalan. Mobil sedan yang ditumpangi keluarga dan tetangganya ternyata sudah tidak ada. Yang ditemuinya justru seseorang yang juga sedang mencari keluarganya. “Saya habis Pak, keluarga saya lima orang meninggal di dalam mobil,” katanya menangis pada Abdullah. Mendengar ini, pikirannya kembali menerawang. Terbayang wajah istrinya yang begitu panik ketakutan. Wajah kecil anaknya yang menangis minta jangan dilepas. Kiki yang terjepit meronta untuk diselamatkan.

Setelah berputar-putar selama satu jam, Abdullah menemukan mobilnya yang terlempar sampai beranda mesjid. Ketika ia membuka pintunya, matanya mesti menyaksikan pemandangan memilukan, istri dan anaknya berpelukan, kaku tanpa nyawa. Abdullah menarik dan meletakkan orang-orang yang dicintainya ini di atas rakit seadanya, yang dibuatnya dari drum. Jenazah-jenazah ini dibawanya ke mesjid.
Melihat mayat yang kebanyakan anak-anak, pikirannya menerawang kembali pada wajah polos anaknya. Sambil ikut mengevakuasi mayat-mayat ke mesjid, ia terus mencari dua anaknya yang hilang. Ia kembali ke jalan-jalan, mencari di antara tumpukan jasad.
Kakinya letih, seletih hatinya yang menangis tanpa suara. Ia terus mencari, semua sudut jalan dan gang tidak terlewatkan. Jika pun anaknya sudah tewas, ia ingin menyatukannya dengan jasad istrinya. Di tengah kegalauan, wajah istri dan anaknya yang sudah kaku memaksanya kembali ke mesjid. Barang kali orang lain sudah menemukan anaknya. Sesampai di mesjid, mayat-mayat makin banyak menumpuk, bahkan mayat istri dan anaknya yang ia tinggalkan tidak ia temukan. Yang ada hanya kabar terakhir, istri dan anaknya beserta mayat-mayat yang lain sudah di bawa ke Lambaro, Namun begitu dicari dan ditanyakan, semuanya menjawab, “Tidak ada. Semuanya akan dikuburkan di kuburan massal.”

Sambil terus berharap, Abdullah bersama penduduk tidur di mesjid, ditemani mayat-mayat yang terus bertambah hingga beberapa hari. Hingga akhirnya ia ingat, lantai atas rumahnya tidak terkena banjir. Hari itu juga ia putuskan untuk kembali ke rumah. Ketika naik, kakinya tertahan. Dilihatnya halaman yang berubah menjadi bubur lumpur bercampur onggokan sampah. Di halaman itulah terlukis beribu kisah tentang anak dan istri tercintanya. “Saya hanya bisa menangis menelan ludah membasahi kerongkongan,” lirih Abdullah.

Ia naik ke atas. Gagang pintu serasa ringan dan kosong saat dibuka. Di dalam rumah tak urung hatinya meratap. Semuanya sepi, hanya tampak baju anak-anaknya yang masih tergantung rapi di sisi pintu. “Saya tak tahan, saya seperti orang gila, keluar masuk kamar sambil berpura-pura cerita kepada istri saya,” kenangnya. Begitu juga saat melongok lewat jendela, anak-anaknya seolah-olah berhamburan, lari minta digendong. “Wajah mereka terbayang terus, mata saya tak bisa dipejamkan, apalagi gempa datang terus,” ujarnya.

Malam pertama di rumah bisunya diisi dengan sholat tahajud dan dzikir. Berharap mukjizat, berharap anaknya bisa ditemukan esok atau lusa. Mengembalikan semuanya kepada Allah, hanya itu bisa dilakukan sebagai penawar hati. Ketakutan yang menderanya saat dihempas gelombang, membuka hati Abdullah tentang kekerdilan seorang manusia. Sia-sialah manusia jika bersombong diri. Segala kesuksesan sebagai pengusaha ternyata menjadi tidak bernilai apa-apa. Kesadaran amat tinggi berdiam hatinya, mengakui kekerdilan di hadapan Allah yang maha Segalanya. “Saya betul-betul sadar sekarang, tak perlu ada yang disombongkan. Ketika segalanya telah ditakdirkan maka tak ada yang bisa mengelak. Kapan saja, di mana saja. Kita tak ada artinya sama sekali, jangan sampai lagi kita bersombong diri.”
Manusia hanya mampu mengulang perkataan saat musibah menimpa, “(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun (sesungguhnya dari Allah kita datang, kepada-Nyalah kita kembali)” (QS. Al Baqarah : 156). Kata-kata itu sesungguhnya adalah obat. Penawar bagi kegalauan jiwa yang kehilangan belahannya. Maka, kembalikanlah semuanya kepada Yang Memilikinya. (Majalah Tarbawi, Edisi 100 Th. 6/Dzulhijjah 1425 H/ 20 Januari 2005 M)

Sahabat Bina Yatim Dhuafa selagi kita masih punya kekuatan, selagi kita masih paunya banyak uang, selagi kita masih punya pangkat dan kedudukan, serta selagi masih dibuka luas pintu untuk bertaubat Marilah kita senantiasa bertaubat dan selalu mengingat Allah serta jangan lupa Mari kita senantiasa menyisihkan sebagian dari Rezeki kita untuk Program Pemberdayaan anak yatim dhuafa karena insya Allah dengan bersedekah Allah akan melindungi Hambanya dari Mara bahaya. Sahabat, Silahkan salurkan donasi anda ke :

REK BCA : 7835039412, a/n Mahmudi
Mandiri : 135-000-7722-968, a/n Mahmudi

Informasi lebih lanjut silahkan anda kunjungi http://binadhuafa.org/ dan silahkan mengisi formulir donasinya

SILAHKAN ANDA SHARE ARTIKEL BERIKUT INI !

    Postingan Lain:

    Comments are closed.