Menumbuhkan Empati Anak

Sahabat Bina Dhuafa Indonesia mari kita simak tips berikut ini  ” Adasebuah fenomena yang sering terjadi, yaitu orang tua yang begitu mengekang kebebasan anak, walaupun memang di mata kita, para orang tua, adalah baik maksudnya. Tapi apakah anak-anak dapat menangkap pesan atau maksud baik tersebut? Bisa jadi mereka masih teramat kecil untuk dapat mengerti.

Contoh sederhana, kita sering mendapati anak berlari kesanake mari hingga kurang memerdulikan keselamatan mereka sendiri. Kita sebagai orang tua akan merasa “ngeri” kalau-kalau terjadi hal yang tidak diinginkan, seperti jatuh, menabrak benda keras, dan lain sebagainya, yang dapat membahayakan keselamatan sang anak. Melihat kondisi anak seperti itu (suka berlari-lari), biasanya kita sebagai orang tua akan langsung menasehatinya, atau melarangnya, bahkan memarahinya.

Andaikan akhirnya anak Anda yang sedang berlari-lari tersebut jatuh, padahal sebelumnya sudah berbusa mulut Anda menasehatinya agar jangan berlari-larian, apa yang akan Anda lakukan?

Menurut pengalaman saya pribadi ada dua perlakuan yang umum dilakukan oleh para orang tua.

Pertama, respon refleks umumnya orang tua adalah langsung memarahi anak akibat tidak mau mendengar perkataan mereka. Kalau pun tidak memarahinya, mereka melakukannya dengan cara lain yakni mengingatkannya dengan nada tinggi. Mungkin kira-kira begini,
“Tuhkan apa Ibu/Ayah bilang! Jangan lari-lari…jadi jatuh,kan! Anak bandel, tidak mau mendengar kata-kata orang tua! Huh!”

Kondisi yang lebih ekstrem yang lain adalah berkata atau membentak dan terkadang dibarengi dengan kekerasan tangan (memukulnya), hingga anak pun menangis karenanya. Kemungkinan besar sang anak menangis bukan akibat dari jatuhnya, melainkan karena bentakan atau pukulan orang tua.

Kedua, berusaha untuk tampil empati tapi tetap memarahi atau membentaknya. Misalnya dengan perkataan sebagai berikut,

“Aduh adik jatuh, ya! Sakit? Makanya apa Mama/Papa bilang. Nggak mau dengar sih perkataan Mama/Papa. Jadi begini akibatnya! Makanya lain kali dengar kata-kata Mama, ya!” dengan suara yang cenderung datar tanpa intonasi tinggi.

Ungkapan kondisi pertama adalah bentuk contoh “judgement” (penghukuman). Artinya, anak langsung diberi hukuman akan tindakan pelanggaran yang dilakukannya (karena tidak mendengar perkataan orang tuanya). Sedangkan, ungkapan kondisi kedua adalah bentuk contoh “semi judgement dan empati”. Kondisi ini agak lebih baik, tapi tetap dapat meninggalkan kesan kejadian berulang pada anak. Maksudnya adalah anak kemungkinan besar akan melakukan perlakuan yang sama yang dilakukan oleh orang tua kepada dirinya, terhadap situasi serupa yang dihadapinya dengan orang lain.

Sekarang coba Anda bayangkan (dari hasil perlakuan kondisi pertama dan kedua di atas) bila sang anak memiliki seorang adik, dan ternyata adiknya melakukan tindakan yang persis dilakukannya, yakni berlari-larian. Sang anak akan mengingatkan si adik untuk jangan berlari-larian, dengan cara persis seperti yang dilakukan orang tua terhadap dirinya. Kira-kira berdasarkan pengalaman sebelumnya, perlakuan apa yang akan dilakukan sang kakak terhadap adiknya?

Seorang anak adalah perekam yang sangat kuat. Anak memiliki kemampuan photo-memory yang sangat tinggi. Bila kita mengharapkan seorang anak yang memiliki sifat dan sikap empati yang tinggi, maka seyogyanya dilatih sejak dini. Jadi, bila kita berharap sang anak bersikap empati apabila melihat adiknya terjatuh, maka kita diharapkan untuk bertindak serupa terhadap dirinya.

Kisah di atas akan lain ceritanya bila sang ayah atau ibu bersikap empati terlebih dahulu ketika mendapati anaknya terjatuh, bukan langsung melakukan “judgement” terhadap dirinya. Contohnya adalah dengan mengatakan, “Aduh … adik jatuh ya! Sakit? Mana yang sakit? Sini ayah/ibu obati,” sambil memberikan perhatian terhadap lukanya, jikalau perlu mengobatinya. Baru kemudian setelah selesai mengobati kita dapat menasehatinya,  “Makanya, lain kali lebih hati-hati ya! Tolong dengarkan apa kata ayah/ibu … Adik mau janji?”( Oleh Kurnia Wahyudi)

Sahabat Bina Dhuafa, Marilah kita bersedekah untuk program pemberdayaan anak yatim dhuafa agar kita terhindar dari kesedihan dan ke kesulitan hidup karna InsyaAllah dengan bersedekah Allah akan memudahkan langkah hidup kita. Mari salurkan Zakat Infaq dan sedekah anda ke BCA : 7835039412, Mandiri : 135 009 755 7555 a/n Yayasan Bina Dhuafa, atau anda bisa mengisi form donasi terlebih dahulu di http://binadhuafa.org/

SILAHKAN ANDA SHARE ARTIKEL BERIKUT INI !

    Postingan Lain:

    Comments are closed.