Wakaf Tunai Meningkatkan Ekonomi Umat

Sahabat Bina dhuafa, Kemiskinan hingga kini merupakan fakta yang harus dihadapi oleh bangsa Indonesia. Berdasarkan data Tim Indonesia Bangkit, angka kemiskinan mengalami peningkatan dari 16 persen pada Pebruari 2005 menjadi 18,7 persen per Juli 2005, menjadi 22 persen per Maret 2006. Kemudian, Desember tahun 2007, terjadi polemik mengenai jumlah angka kemiskinan. Pastinya makin tinggi patokan garis kemiskinan, maka makin tinggi jumlah orang miskin (per Maret 2006 angka Rp.152.847).

Fakta ini menunjukkan bangsa Indonesia belum sepenuhnya merdeka dari kemiskinan. Pemerintah sendiri sampai sekarang kelihatannya masih gamang untuk melakukan pengentasan kemiskinan. Langkah yang ditempuh bersifat tambal sulam. Sampai hari ini pemerintah belum dapat melepaskankan diri dari belitan utang luar negeri yang berbasis bunga. Karena hal itu, utang menjadi sumber penting pembiayaan APBN. Akibatnya, setiap seorang anak lahir, ia telah terbelit lilitan utang sekira Rp11 juta. Sesungguhnya banyak cara yang ditawarkan Islam untuk mengatasi persoalan itu. Misalnya, dengan cara menggali sumber dana melalui wakaf tunai (wakaf dalam bentuk uang).

Wakaf merupakan satu bentuk kebajikan unik dalam ajaran Islam karena menggabungkan aspek kerohanian dan kebendaan. Lebih khusus lagi, orang yang berwakaf akan memperoleh pahala secara terus menerus. Walaupun ia (pewakaf) sudah meninggal dunia, selagi harta yang diwakafkan itu memberi manfaat kepada masyarakat. Dari sudut kepentingan umat, jika dana wakaf tunai ini dapat dikembangkan, inilah sebenarnya sumber dana raksasa. Perekonomian nasional akan segera menggeliat dan dapat melepaskan diri dari belitan belenggu kapitalisme global.

Sumber Dana Raksasa

Selama ini secara tradisional masyarakat hanya mengenal wakaf berupa benda yang tidak bergerak. Umumnya berupa tanah dan bangunan yang lazimnya dipergunakan untuk tanah pekuburan, masjid, dan madrasah. Masalahnya wakaf dalam bentuk uang belum tersosialisasi dengan baik di tengah-tengah masyarakat. Padahal wakaf tunai ini memberi kesempatan yang sangat luas kepada seluruh lapisan masyarakat untuk bersadaqah jariah, dan mendapatkan pahala yang tidak pernah terputus. Bagaikan sumber mata air yang mengalir sampai jauh tiada pernah berhenti tanpa menunggu menjadi orang kaya terlebih dahulu. Hal berbeda dengan amalan wakaf dalam bentuk tanah atau bangunan, baru dapat diamalkan dengan nilai yang relatif besar.

Hanya dengan sejumlah uang tertentu sudah dapat berwakaf, dan nazir akan mengeluarkan selembar sertifikat wakaf sebagai bukti wakaf. Intinya, wakaf tunai adalah berwakaf dengan sejumlah uang tertentu (termasuk surat berharga), yang bertujuan untuk menghimpun dana abadi umat yang bersumber dari umat Islam. Wakaf tunai sebenarnya bukan persoalan baru dalam agama Islam. Imam Az-Zuhri (wafat tahun 124 H), telah memfatwakan kebolehan wakaf uang (saat itu berupa dinar dan dirham) untuk pengadaan sarana dakwah, sosial dan pembangunan umat. Kemudian dipopulerkan kembali oleh MA Mannan melalui pendirian Social Investment Bank Limited (SIBL) yang khusus didirikan untuk mengelola dana wakaf. Apabila wakaf tunai ini dapat disosialisasikan dengan baik ke tengah-tengah masyarakat, alangkah besarnya potensi dana yang akan terkumpul. Andaikan saja dari sekitar 200 juta umat Islam di Indonesia, mau melaksanakan ibadah wakaf tunai sebesar 10 persen (sekitar 20 juta orang) dengan besaran wakaf Rp50 ribu setiap bulan, maka dalam waktu satu tahun akan terkumpul dana sebesar Rp12 triliun setiap tahun.

Dana ini akan bertambah dari tahun ke tahun, kalau saja gerakan wakaf tunai ini dapat dilaksanakan dengan baik Nominalnya, dalam jangka waktu10 tahun saja, akan terhimpun dana sebesar Rp120 triliun. Tentunya, ini merupakan sumber dana raksasa yang luar biasa yang dimiliki umat Islam. Alasan lain, mengapa wakaf tunai disebut sebagai sumber dana raksasa, adalah terbukanya peluang yang sebesar-besarnya kepada setiap orang (maupun kelompok, jamaah, korporat) untuk beribadah dalam bentuk shadaqah jariah (berwakaf). Sebab ibadah wakaf tunai ini dapat dilakukan setiap orang tanpa harus menjadi kaya terlebih dahulu. Melihat potensi raksasa ini, mestinya umat Islam harus lebih proaktif memikirkan secara serius langkah-langkah yang harus dilakukan untuk menggali potensi wakaf tunai. Dengan tergalinya potensi ini, sangat banyak hal-hal yang dapat dilakukan untuk mengejar ketertinggalan ekonomi umat Islam.

Peningkatan Ekonomi Umat

Apabila dana abadi umat terhimpun melalui gerakan wakaf tunai, banyak aktivitas perekonomian umat Islam dapat terbantu. Dr. Murat Cizakca mengemukakan dalam; A History of Philantrophic Foundations: The Islamic World From The Seventh Century to The Present, pada zaman pemerintahan Ottmaniah di Turki, amalan wakaf tunai berhasil meringankan perbelanjaan kerajaan dalam menyediakan kemudahan pendidikan, kesehatan dan pelayanan sosial lainnya kepada masyarakat.  Cizakca menambahkan, secara logika, jika amalan wakaf tunai diamalkan pada masa sekarang sepatutnya mampu memainkan peranan yang sama seperti yang terjadi pada zaman Ottmaniah dan dapat membantu mewujudkan tujuan makro ekonomi modern, yaitu menurunkan perbelanjaan negara.

Lalu, menurunkan defisit belanja negara dan seterusnya mengurangi ketergantungan negara kepada instrumen utang atau pinjaman sebagai sumber pembiayaan proyek pembangunan. Besarnya potensi wakaf tunai ini terbukti dengan fakta, seperti yang dilakukan oleh Islamic Relief (organisasi pengelola wakaf tunai di Inggris) yang berhasil memobilisasi dana wakaf tunai setiap tahun tidak kurang dari 30 juta poundsterling. Dana ini kemudian dikelola secara professional dan amanah. Hasilnya disalurkan kepada lebih dari 5 juta orang yang berada di manca negara. Di Bosnia, Islamic Relief melalui dana wakaf tunai telah berhasil menciptakan lapangan kerja baru bagi lebih dari 7.000 orang melalui Income Generation Waqf.

Di Malaysia, gerakan wakaf tunai ini juga sudah mendapat perhatian. Beberapa Majlis Agama Islam Negeri dan Syarikat Swasta sudah mulai menggerakkannya, seperi Majlis Agama Islam Selangor telah mulai memperkenalkan skim saham wakaf. Bahkan Johor Corporation Berhad (JCorp) melalui 3 anak perusahaannya telah mewakafkan saham miliknya dengan nilai aset bersih berjumlah RM200 juta di bawah kelolaan Kumpulan Waqaf Annur Berhad. Kemudian dividen yang diperoleh dari saham itu digunakan dan diinvestasikan kembali, serta diberikan kepada Majlis Agama Islam dan untuk kegiatan-kegiatan amal kebajikan umat Islam di Malaysia. Dalam konteks perekonomian negara Indonesia, wakaf tunai dinilai merupakan alternatif yang tepat untuk melepaskan (setidaknya mengurangi) ketergantungan bangsa Indonesia dari lembaga-lembaga kreditor multilateral. Sekaligus menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Penutup

Melihat potensi raksasa wakaf tunai, sudah pantas umat Islam mulai menggerakkan secara serius upayaupaya untuk menggali sumber dana umat yang terpendam dalam bentuk wakaf tunai. Ini sesuatu yang sangat mungkin bisa dicapai. Apalagi persoalan hukum formal wakaf tunai ini sudah tuntas diatur dalam UU Nomor 41 Tahun 2004 tentang Wakaf dan Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2006 tentang Peraturan Pelaksanaan UU Nomor 41 Tahun 2004 tentang Wakaf. Apabila potensi wakaf tunai ini dapat digali dan dikembangkan, pasti dapat membantu meningkatkan dan memberdayakan ekonomi umat Islam di Indonesia. Amin ya Allah.

Oleh :Suh rawardi K Lubis

SILAHKAN ANDA SHARE ARTIKEL BERIKUT INI !

    Postingan Lain:

    Comments are closed.